Adat Istiadat Ambon

Oleh dolfis

Cakalele dan Obor Pattimura


“BANGSA yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang jasa pahlawannya”. Demikian ungkapan yang biasa dilontarkan oleh sebuah pepatah kuno kepada masyarakat guna senantiasa mengenang semangat juang pahlawan yang rela mengorbankan jiwa-raganya dalam melawan bangsa penjajah.
Setiap tanggal 15 Mei, di Maluku pemerintah bersama rakyat setempat melakukan prosesi adat dan kebangsaan dalam memperingati hari Pattimura. Yang paling terkenal adalah lari obor dari Pulau Saparua menyebrangi lautan menuju Pulau Ambon, untuk selanjutnya diarak-arak sepanjang 25 kilometer menuju kota Ambon.

tawuri maluku

Raut Wajah Suku asli Maluku” Alif’uru dengan tarian Cakalele“



Prosesi ini diawali dengan pembakaran api obor secara alam di puncak Gunung Saniri di Pulau Saparua. Gunung Saniri adalah salah satu ritus sejarah perjuangan Pattimura karena di tempat itulah, awal dari perang rakyat Maluku melawan Belanda tahun 1817.
Dalam sejarahnya, di Gunung Saniri berkumpul para Latupati atau Raja-Raja dan tokoh masyarakat Pulau Saparua. Mereka melakukan Rapat Saniri (musyawarah raja-raja) untuk menyusun strategi penyerangan ke Benteng Durstede di Saparua yang dikuasai Belanda. Thomas Matulessy dari desa Haria lantas diangkat sebagai Kapitan atau panglima perang dengan gelar Pattimura.
Penyerangan rakyat ke benteng Durstede melalui Pantai Waisisil tidak menyisahkan satupun serdadu Belanda termasuk Residen Belanda Van de Berk dan keluarganya. Semuanya tewas terbunuh dan yang hidup hanyalah putra Van de Berk yang berusia lima tahun. Dia diselamatkan oleh Pattimura. Belakangan, putra Van de Berk ini diserahkan kembali kepada pemerintahan Belanda di Ambon.
Dari penyerangan inilah api perjuangan terus dikobarkan. Kemenangan Pattimura yang berhasil menjatuhkan Benteng Durstede menjadi inspirasi kepada rakyat lainnya untuk angkat senjata melawan Belanda. Peperangan pun terjadi hampir di seluruh daerah di Maluku. Dalam perjalanannya, Pattimura dan rekan-rekannya berhasil ditangkap oleh Belanda lewat siasat liciknya. Mereka diputuskan oleh Pengadilan di Ambon dengan hukuman mati.

Semangat juang Kapitan Pattimura masih menjadi inspirasi dan spirit bagi masyarakat Maluku hingga kini. Ketokohan Pattimura yang akhirnya dihukum gantung masih menjadi kenangan yang terus diingat oleh masyarakat Maluku. Karena semangat dan perjuangan Kapitan Pattimura bukan berjuang untuk orang lain yang bukan bagian integral dari Masyarakat maluku, karena Tahun 1819 perjuangannya membebaskan orang maluku dari penjajah Belanda dan semangatnya itu pula harus ditedani oleh orang Maluku untuk membebaskan tanah ini dari segala bentuk penjajahan.””



Perayaan hari Pattimura menyemut di sekitar Monumen Tugu Pattimura di Lapangan Merdeka. Di tempat inilah, Pattimura dihukum gantung oleh Belanda. Kedatangan warga dari berbagai pelosok ini guna menyaksikan prosesi lari obor Pattimura dan pembakaran api Pattimura oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu di tempat gantungan Pattimura tersebut.
Pantauan Radio Vox Populi di Ambon, warga yang hadir saat itu dari berusia 5 tahun yang dibawah orang tuanya, hingga yang sudah lanjut usia. Mereka datang untuk melihat pemuda-pemuda Ambon membawa obor Pattimura. Warga berbaur jadi satu mensesaki tiga ruas jalan di sekitar kawasan itu.
“Beta (saya) sengaja membawa anak saya Mervin yang berusia 5 tahun, untuk memperlihatkan semangat Pattimura yang ditunjukan oleh pemuda-pemuda sekarang sewaktu lari obor,” kata Ny. Juli Wattimena, salah satu pegawai kantor pemerintah di Ambon kepada Radio Vox Populi.
Dikatakannya, sikap juang Pattimura bukanlah sendiri, tapi bersatu dengan rakyat untuk sama-sama berperang melawan Belanda. “Generasi sekarang juga harus meneledani sikap Pattimura ini, yakni melakukan pembangunan secara bersama-sama. Daerah ini akan maju kalau kita bersatu tanpa melihat perbedaan dalam membangun daerah ini pascakonflik,” katanya.
Tidak lama setelah itu, iring-iringan kendaraan bermotor mengaung-ngaung dari kejauhan, pertanda obor Pattimura sudah dekat. Ratusan kendaraan bermotor ini adalah bentuk partisipasi masyarakat secara spontan untuk mengantarkan obor Pattimura sepanjang perjalanan.
Suara tifa dipukul dan tauri (kulit kerang) ditup mengantarkan pasukan pembawa obor yang berpakaian merah-merah. Sekitar sepuluh pemuda membawa obor, sementara 20-an pemuda lainnya menenteng parang terhunus melakukan tari cakalele (tarian perang). Bahkan beberapa diantaranya seperti kerasukan dan menikam atau memotong bagian tubuh dirinya sendiri.

Suasana ketika itu seakan penuh magis. Warga yang menontot berteriak-teriak histeris menyambut obor Pattimura. Suasana makin panas ketika sekelompok pemuda memperagakan tarian cakalele, diiringi suara tifa dan tauri.
Seusai membakar api Pattimura, gubernur selanjutnya menuju lapangan untuk memimpin upacara. Di tempat ini telah berkumpul muspida Maluku dan kota, para Latupati Saparua (raja-raja dari Saparua), mahasiswa, dan pasukan pembawa obor dan cakalele yang berasal dari pemuda Batumerah dan Mardika.
Dari barisan peserta upacara ini kita bisa melihat suasana yang unik dari biasanya. Pemimpin upacara menggunakan pakaian perang dan gubernur sebagai pembina upacara hadir dengan pakaian tenunan Maluku. Gubernur saat itu menyandang gelar Upu Latu (Bapak Raja).
Sebagian besar peserta upacara menggunakan pakaian tenunan Maluku, tercuali TNI dan Polri. Di barisan Latupati Saparua, seluruh raja menggunakan pakaian kebesaran raja, sementara di barisan pembawa obor dan cakalele berpakaian merah-merah, dengan ikat kepala merah.

Menariknya lagi, dibarisan ini berkumpul pemuda Batumerah dan Mardika, dua daerah yang merupakan komunitas Islam dan Kristen. Konflik Ambon yang pecah pada 19 Januari 1999 diawali dari pertikaian kelompok pemuda dari dua daerah ini. Tapi suasana saat itu begitu cair. Meski menenteng parang terhunus dan tombak, namun berbaur dalam satu barisan tanpa ada prasangka buruk kepada yang lainnya. Disekelilingi lapangan upacara, ratusan obor menyala seakan memagari tempat upacara di hari itu.
Gubernur Maluku dalam sambutannya mengatakan, hari Pattimura yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Mei, jangan hanya dijadikan sebagai perayaan semata, tapi harus dimaknai semangat perjuangan Pattimura.
“Kita harus membangun daerah ini dari keterpurukan dengan memaknai semangat perjuangan Pattimura dan rakyat ketika itu,” katanya.
Dia berharap, kondisi Maluku yang sudah aman setelah diluluhlantak oleh konflik kemanusiaan tahun 1999, bisa secepatnya pulih. “Sebagai generasi sekarang, kita harus bersama-sama meneruskan perjuangan Pattimura dengan melanjutkan pembangunan di segala bidang,” harapnya.
Menteri Kehutanan MS Ka’ban yang berkesempatan hadir mengukuti prosesi upacara hari Pattimura mengatakan, kegagumannya melihat masyarakat Maluku bangun dari kondisi terpuruk akibat konflik. Menurut Ka’ban, menyaksikan prosesi lari obor Pattimura dan upacara perayaan hari Pattimura merupakan satu pengalaman hidupnya yang berharga.
“Selama ini saya hanya bisa membaca lewat buku, tapi sekarang saya bisa melihat langsung bagaimana prosesi perayaan Hari Pattimura. Ini merupakan pengalaman hidup saya yang sangat berharga,” ungka Ka’ban kepada wartawan.
Sama dengan gubernur, Kaban berpesan agar generasi Muda Maluku bisa memaknai semangat juang Pattimura dengan melanjutkan pembangunan di daerah itu.

15 Mei 2006 selain diperingati sebagai Hari Pattimura, pada hari yang sama juga masyarakat kota Ambon melaksanakan momentum penting yakni pemilihan kepala daerah secara langsung untuk periode 2006-2011. Pelaksaan Pilkada yang dikuatirkan sebagian kalangan bisa berpotensi tercipta konflik baru akibat benturan kepentingan dari para kandidat ternyata hingga sore berlangsung dengan aman damai.

(source: Radio Vox Populi, Ambon)


Nadi Toleransi Dilumbung Konflik, Pela Gandong Salam Sarani

 

Pela Gandong sebagai Katup Pengaman di MalukuSecara antropologis, masyarakat asli Maluku Tengah berasal dari dua pulau besar, yaitu Pulau Seram dan Pulau Buru, yang kemudian bermigrasi ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Para migran dari Pulau Seram menyebar ke Kepulauan Lease (Pulau Haruku, Pulau Saparua, Pulau Nusalaut) dan Pulau Ambon.
Migrasi ini memberi dampak terhadap peran Kepulauan Lease sebagai pusat kebudayaan baru yang diintrodusir oleh kolonial Belanda, sehingga terjadi asimilasi antara kebudayaan baru dimaksud dengan Kebudayaan Seram yang mendapat pengaruh dari kebudayaan sekitarnya, yaitu kebudayaan Melanesia (tradisi Kakean) dan Melayu, serta kekuasaan Ternate dan Tidore.

Dalam rangka pengawasan terhadap penduduk, pemerintah kolonial Belanda menurunkan penduduk dari pegunungan ke pesisir pantai, sehingga komunitas-komunitas dengan teritori yang disebut Hena atau Aman, berganti nama dengan Negeri, yang diciptakan oleh kolonial.
Dalam proses sosio-historis, negeri-negeri ini mengelompok dalam komunitas agama tertentu, sehingga timbul dua kelompok masyarakat yang berbasis agama, yang kemudian dikenal dengan sebutan Ambon Sarani dan Ambon Salam. Pembentukan negeri seperti ini memperlihatkan adanya suatu totalitas kosmos yang mengentalkan solidaritas kelompok, namun pada dasarnya rentan terhadap kemungkinan konflik. Oleh sebab itu, dikembangkanlah suatu pola manajemen konflik tradisional sebagai pencerminan kearifan pengetahuan lokal guna mengatasi kerentanan konflik dimaksud seperti Pela, Gandong dan hubungan kekerabatan lainnya.
Teritori-teritori baru ini (negeri) diatur struktur pemerintahannya yang mirip dengan struktur pemerintahan di Negeri Belanda. Dengan struktur pemerintahan demikian, maka negeri-negeri menjadi ”negara-negara” kecil dengan pemerintah, rakyat dan teritori tertentu, dipimpin oleh raja yang diangkat dari klen-klen tertentu yang memerintah secara turun-temurun, dan kekuasaan di dalam negeri dibagi-bagi untuk seluruh klen dalam komunitas negeri.
Dalam proses penataan struktur pemerintahan negeri, terjadi perubahan institusi sosial, seperti Saniri Negeri yang sebelumnya merupakan lembaga peradilan, berubah fungsi menjadi semacam badan perwakilan rakyat.
Dalam perkembangan sosio-historis selanjutnya, terjadi kontak-kontak sosial baik antar masyarakat asli Maluku Tengah maupun antara masyarakat asli dengan pendatang.

Dengan demikian di masyarakat Maluku Tengah ini dikenal dua kelompok atau kategori sosial, yaitu Anak Negeri dan Orang Dagang. Yang disebut Anak Negeri ialah penduduk asli Maluku Tengah dalam sebuah negeri (Desa Adat).
Anak Negeri ini, terdiri atas dua kelompok pemeluk agama, yaitu Anak Negeri Sarani untuk yang beragama Kristen, yang mendiami Negeri (Desa Adat) Sarani, dan Anak Negeri Salam untuk yang beragama Islam, yang mendiami Negeri (Desa Adat)
Salam. Kedua kelompok masyarakat ini umumnya hidup dalam komunal-komunal (Negeri) yang terpisah, kecuali di beberapa desa seperti Hila, Larike dan Tial diPulau Ambon.Yang disebut Orang Dagang ialah para pendatang, baik karena ikatan perkawinan dengan Anak Negeri, maupun karena tugas-tugas pelayanan masyarakat(guru, mantri kesehatan, mantri pertanian, dan lain-lain), atau karena aktivitas ekonomi (penggarap tanah atau pemungut hasil hutan, atau pedagang). Jadi, Orang Dagang di sebuah Negeri, dapat berasal dari orang Maluku asli yang berasal dari Negeri lain,ataupun pendatang dari luar Maluku, yaitu yang berasal dari Buton, dan suku bangsa Cina serta Arab.

Gotong Royong

Khusus pendatang dari luar Maluku, etnis yang dominan dari segi kuantitas ialah enis Buton. Orang Dagang dari luar Maluku ini datang dan menetap dalam Negeri, baik
secara berbaur dengan Anak Negeri maupun membentuk suatu komunal lain dalam Petuanan Negeri, lebih didominasi oleh kepentingan ekonomi.Orang Dagang yang berasal dari keturunan Arab atau Cina, datang dan mendiami sebuah Negeri dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu hanya satu atau beberapa kepala keluarga. Mereka ini hadir sebagai pedagang yang tidak membentuk komunal yang terpisah dari Anak Negeri, tetapi berbaur dalam komunitas Anak Negeri.Kontak sosial antar Anak Negeri dari dua atau lebih Negeri, terjadi karena hubungan kekerabatan, yang terakomodasi dalam berbagai wujud termasuk Pela dan Gandong, atau karena hubungan ekonomi maupun sosial lain, seperti pendidikan anak, atau acara-acarakeagamaan maupun hari-hari besar kenegaraan.Sebaliknya, kontak sosial antara Anak Negeri dengan Orang Dagang, terutama yang berasal dari luar Maluku, terjadi karena kegiatan ekonomi, sehingga pola hubungan kedua kelompok masyarakat ini lebih dimotivasi oleh kepentingan ekonomi semata.Secara antropologis dan sosiologis tersebut, maka sesungguhnya dalam kehidupan sosial, terutama pada daerah pedesaan di Maluku Tengah, terdapat tiga pengelompokan masyarakat, yaitu Anak Negeri Sarani, Anak Negeri Salam, dan Orang Dagang. Perekat sosial antar satu kelompok dengan kelompok lainnya, berbeda-beda. Perekat sosial yang mengikat hubungan sosial Anak Negeri Sarani dan Anak Negeri Salam, antara lain yang menonjol ialah nilai-nilai budaya Pela atau Gandong yang diyakini mempunyai kekuatan supranatural yang sangat mempengaruhi perilaku sosial kedua kelompok masyarakat ini.

Wujud keterikatan budaya ini secara praktis terlihat dari sifat kegotong-royongan antar kedua Negeri yang mempunyai hubungan pela atau gandong. Sifat kegotong-royongan ini dalam realitasnya memasuki area identitas kelompok yang sensitif, yaitu dalam hal
pembangunan rumah ibadah, dimana Negeri Sarani merasa wajib untuk menyiapkan bahan bangunan (biasanya kayu) dan bersama-sama membangun mesjid. Demikian
sebaliknya, Negeri Salam merasa wajib untuk menyiapkan bahan bangunan dan bersama-sama membangun gereja.
Kewajiban ini didasari atas rasa kewajiban sosial, moral dan ritual, sama sekali tidak ada nuansa ekonomi di dalamnya. Kewajiban yang bernuansa sosial, moral dan ritual ini, tidak mengurangi ataupun mengganggu kepatuhan terhadap ajaran agama yang dianut
oleh Anak Negeri tiap Negeri yang berbeda agama ini, bahkan mempertebal rasa saling menghargai perbedaan agama antar kedua Negeri tersebut. Pola hubungan Anak Negeri dengan Orang Dagang, dipererat oleh kepentingan ekonomi, dari masing-masing kelompok. Sehingga yang menjadi perekat hubungan sosial antarkedua kelompok masyarakat ini bukan agama, tetapi transaksi ekonomi. Hal ini terjadi, karena pada umumnya Orang Dagang yang terbanyak berasal dari Buton, mendiami dan menggarap lahan milik petuanan Negeri Sarani. Sedangkan Orang Dagang asal Negeri lain, pada umumnya pola hubungan sosial dengan Anak Negeri direkatkan oleh kekerabatan karena perkawinan atau pekerjaan sosial lain. Sebab itu, pandangan Anak Negeri terhadap Orang Dagang yang berasal dari Negeri lain, berbeda dengan yang berasal dari luar Maluku Tengah. Orang Dagang dari Negeri lain, masih dilihat sebagai suatu kesatuan budaya, sedangkan terhadap Orang Dagang dari luar Maluku Tengah, dilihat sebagai pendatang dan orang di luar kesatuan budaya. Karena itu, ada perlakuan yang berbeda dari Anak Negeri terhadap Orang Dagang yang

berasal dari Negeri lain dengan yang berasal dari luar Maluku Tengah. Namun ada perlakuan yang sama kepada kedua sub kelompok Orang Dagang ini, ialah

keduanya tidak diberi hak dalam penguasaan Tanah Dati atau Tanah Negeri.

Pola hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Maluku Tengah sudah mengandung potensial konflik, karena adanya sentimen kelompok, baik dalam konteks Salam-Sarani, Anak Negeri-Orang Dagang, maupun secara kesatuan budaya. Namun demikian, sentimen kelompok ini tereliminasi dengan kearifan budaya lokal maupun kepentingan ekonomi yang substitusional dalam batasan kewajaran, sehingga konflik sosial tidak termanifest.

Dengan kata lain, potensi tersebut dapat diredam dan mengendap pada bagian terdalam struktur kepribadian masyarakat, karena institusi sosial budaya lokal masih berfungsi dengan baik sebagai katup pengaman yang mampu meminimalkan eksplosi sosial yang bernuansa primordial. (SH/izaac tulalessy)

 

 

 

Klan-klan (Vam) di Maluku Tengah Menurut Negeri-Negeri
Daftar klan-klan (marga) di Maluku Tengah ini adalah hasil dari riset di Maluku Tengah pada tahun 1974-75. Daftar ini belum lengkap dan dimohon agar orang-orang yang berasal dari negeri-negeri dan ahli-ahli adat negeri dapat membantu memperbaiki daftar ini dengan koreksi-koreksi dan tambahan-tambahan agar daftar dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus dari Maluku Tengah yang bermukim di Tanah Air, Negeri Belanda, Amerika Serikat atau dimana-mana saja. Daftar ini sangat penting untuk melestarikan Kebudayaan dan Adat Maluku yang sudah mulai menghilang disebabkan oleh integrasi, perkawinan antar suku dan ketidakperdulian.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s